Fasilitas
Unit
Rabu, 18 Oktober 2017 09:06:54 WIB Dilihat : 54 kali

Indonesia dari awal mulanya syarat sekali dengan keragaman budaya, khususnya masalah keagamaan. Tidak hanya agama-agama yang diakui oleh pemerintah saja yang tumbuh dan berkembang, tetapi juga agama-agama lain mulai lambat laun bergerak mewarnai negeri yang multikultural ini. Begitu pula pada praktik pengamalan dari berbagai agama yang sangat bervariasi. Karenanya, diskusi-diskusi mengenai keragaman agama dan praktik keagamaan perlu terus dilakukan.

Di sisi lain, dampak dari keragaman ini menjadi interaksi yang sangat menarik untuk dipertontonkan, diperdebatkan dan dipahami dalam sudut pandang yang kompleks, baik melalui pendekatan sosiologis, antropologis maupun pendekatan-pendakatan lainnya. Salah satu forum yang membahas itu adalah Kuliah Umum Program Studi Sosiologi Agama yang diselenggarakan di ruang Teatrikal Fakultas Ushuluddin dan Pemikiran Islam pada hari Rabu, 27 September 2017.

Dalam menyambut acara itu, Dekan Fakultas Ushuluddin dan Pemikiran Islam, Dr. Alim Roswantoro, M.Ag menyatakan bahwa penganut agama seringkali ditemukan menggunakan agama sebagai komuditas. Agama tidak jarang digunakan untuk kepentingan politis semata karena pada dasarnya, politik syarat kaitannya dengan kuantitas massa. Sehingga tidak salah jika diasumsikan bahwa dalam kasus seperti ini penganut agama terjebak pada calculative thinking. Model berpikir kalkulatif ini Martin Heidegger maksudkan untuk menunjuk pada seseorang yang berpikir pragmatis, berpikir hanya untuk kepentingan material dirinya maupun kelompoknya.

Lebih dari itu, interaksi keagamaan juga tidak jarang berupa konflik sosial yang tidak barujung lantaran salah satu penyebabnya adalah model berpikir kalkulatif yang dilakukan dengan cara penyebaran hoax, propaganda dan lain sebagainya, tegas Roswantoro di akhir sambutannya.

Pembicara utama dalam Kuliah Umum tersebut adalah Achmad Baidowi, S. Sos,. M. Si, alumni Prodi Sosiologi Agama yang saat ini menjabat sebagai Anggota Komisi II DPR RI. Pada awal presentasi, mantan editor Suka-Press ini memaparkan fakta multikulturalitas yang berkembang di Indoensia dibandingkan dengan negara lainnya. Konghucu yang pemeluknya berjumlah 1% mendapat hari libur nasional pada peringatan hari Raya Imlek. Sedangkan di Amerika, penganut Islam berkisar 1% hanya mendapat sekali hari libur. Akan tetapi di Jerman, penduduk yang menganut Islam berjumlah 5% tidak mendapat hari libur lebaran kecuali dibeberapa negara bagian. Fakta ini jika dikaitkan dengan pandangan Heidegger di atas patut diasumsikan terselubungnya pragmatisme politik yang menjadikan agama sebagai komuditas.

“Dari contoh kecil di atas, mahasiswa Sosiologi Agama dipandang harus mampu mengantisipasi terjadinya hal demikian. Melalui perspektif fungsionalisme, toleransi, multikulturalisme, candy’s bowl dan perspektif-perspektif lainnya harus mampu bersikap inklusif, moderat dan membaur dengan setiap golongan masyarakat”, tegas Badowi pada saat presentasi. Masalah-masalah intoleransi, penyesatan ajaran, truth claim, diskriminasi, aksi teror merupakan dampak dari kekauan cara berpikir dan bertindak, eksklusif, radikalisme dan sebagainya.

“Masalah-masalah tersebut menuntut mahasiswa Sosiologi Agama untuk lekas merangkul masyarakat, belajar bersama dengan masyarakat untuk menjawab dambaan negeri ini dalam hal kerukunan dan kedamaian”, pungkasnya.(Effendi Chairi)

Berita Terkait

Berita Terpopuler

Arsip Pengumuman
Arsip Berita
Arsip Agenda
Arsip Kolom